https://ejournal.staidarussalamlampung.ac.id/index.php/islamida/issue/feedISLAMIDA Journal of Islamic Studies2026-09-17T15:27:35+07:00Nuri Safitriislamida488@gmail.comOpen Journal Systems<p align="justify"><em> Islamida Journal is a scientific publication platform that focuses on Islamic studies through quantitative, qualitative, and literature study approaches. The scope of this journal includes strategic topics such as the interpretation of the Quran and Hadith, gender issues, business studies, Islamic thought, and even Islamic philosophy. For authors who wish to submit their work, manuscripts can be sent directly via the email address Islamidajurnal@gmail.com.</em>In the preparation process, manuscripts must be typed to a length of 15 pages on A4 paper with 1.5 spacing using Book Antiqua font, size 12. The document must be saved in Rich Text Format (RTF) before being sent to the editorial address. This journal, published every semester, has E-ISSN <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/20220205540894230" target="_blank" rel="noopener">2828-0482</a>, where the editorial team holds full rights to evaluate the suitability of the content and to edit the submitted articles to maintain publication quality.</p>https://ejournal.staidarussalamlampung.ac.id/index.php/islamida/article/view/875INTEGRASI PENDEKATAN PREVENTIF DAN REPRESIF DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI: PERAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) DI INDONESIA2026-09-17T15:00:10+07:00Fadhilatul Fitriafadhila.fitria1503@gmail.com<p>Korupsi adalah salah satu permasalahan yang sangat serius dan kejahatan luar biasa (<em>extraordinary crime</em>) yangmenimbulkan dampak multidimensional terhadap pembanguanan dan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Untuk mencegah terjadinya korupsi, dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga negara independen yang memiliki tugas khusus untuk memberantas tindak pidana korupsi. Penelitian ini mengkaji peran strategis Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mengintregrasikan pendekatan preventif dan represif secara simultan untuk memperkuat pemberantasan korupsi di Indonesia. Pendekatan preventif difokuskan pada reformasi tata kelola, peningkatan transparasi, edukasi antikorupsi, serta penguatan sistem pengawasan publik. Sementara itu, pendekatan reprensif dilaksanakan elalui penyelidikan, penyidikan, penuntutan, penyitaan asset, serta oprasi tangkap tangan (OTT) terhadap pelaku tindak pidana korupsi. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian pustaka (<em>lybrary research</em>). Penelitian <em>library research</em> atau penelitian kepustakaan adalah salah satu jenis penelitian yang menggunakan sumber data dari literatur atau bahan-bahan tertulis yang ada di perpustakaan atau database online. Hasil kajian menunjukan bahwa sinergi antara pencegahan dan penindakan mampu menciptakan efek jera sekaligus menutup celah terjadinya korupsi. Namun efektivitas integrasi tersebut masih dihadapkan pada tantangansignifikan seperti revisi regulasi, tekanan politik, keterbatasan anggaran, serta kriminalisasi pegawai KPK. Penelitian ini merekomendasikan penguatan independensi KPK, peningkatan dukungan public, dan optimalisasi teknologi forensikdigital untuk membangun sistem pemberantasan korupsi yang berkelanjutan dan efektif.</p> <p>Kata kunci: KPK, korupsi, pencegahan, penindakan, integrasi strategi</p>2024-08-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2024 ISLAMIDA Journal of Islamic Studieshttps://ejournal.staidarussalamlampung.ac.id/index.php/islamida/article/view/1138REINTERPRETASI KONSEP QANA’AH: PENAFSIRAN HANAN ATTAKI PADA SURAT AL-TAUBAH AYAT 59 (Studi Ceramah Hanan Attaki Di YouTube)2026-09-17T15:13:31+07:00M. Ferli Junizaldimochferli06@gmail.comM. Esa Darma Ramadhanesadarma38@gmail.comBusra Febriyarnibundabusra@gmail.comAkhmad Aidil Fitraakhmadaidilfitra@gmail.com<p><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Abstrak:Penelitian ini mengkaji konsep qana'ah sebagaimana diinterpretasikan dan disebarluaskan melalui dakwah digital, khususnya melalui ceramah YouTube Ustadz Hanan Attaki berjudul “Selalu Merasa Cukup, Kunci Hati dan Pikiran Selalu Tenang” yang diunggah pada 17 Februari 2025. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang memadukan metode studi kepustakaan (library research) dan analisis konten digital, penelitian ini mengungkap bagaimana konsep qana'ah dalam khazanah Islam klasik diinterpretasi ulang dalam media digital untuk audiens Muslim kontemporer. Data primer berupa transkripsi lengkap ceramah Hanan Attaki dengan QS. At-Taubah: 59 sebagai pijakan Qur'ani utama, sedangkan data sekunder meliputi karya-karya klasik dan kontemporer tentang qana'ah, literatur akademik tentang dakwah digital, serta data penerimaan audiens yang diperoleh dari analisis komentar YouTube. Temuan penelitian mengungkap tiga dimensi utama: pertama, Hanan Attaki menggunakan pendekatan tafsir kontekstual yang menggeser pemahaman qana'ah dari kerangka ekonomi-material menuju kerangka kecukupan psikologis dan spiritual yang berpijak pada kalimat hasbunallah wa ni'mal wakil; kedua, penggunaan analogi naratif—yang merujuk pada kisah kaum Ansar, pemenjaraan Ibnu Taimiyah, dan perumpamaan tawakkal total kepada Allah—berfungsi efektif sebagai media kontekstualisasi konsep qana'ah bagi audiens digital; dan ketiga, analisis penerimaan penonton melalui komentar YouTube menampilkan dampak kognitif, afektif, dan behavioral yang mendalam, di mana penonton dari latar kehidupan yang sangat berbeda sama-sama melaporkan resonansi spiritual dan komitmen untuk bertawakkal kepada Allah. Penelitian ini memberikan kontribusi pada wacana tafsir digital dan kajian Living Qur'an dengan menunjukkan bagaimana nilai-nilai Qur'ani klasik diadaptasi secara dinamis dan diterima dalam lanskap media digital Islam abad ke-21.</span></span></em></p> <p> </p>2024-08-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 ISLAMIDA Journal of Islamic Studieshttps://ejournal.staidarussalamlampung.ac.id/index.php/islamida/article/view/1136TAFSIR YOUTUBE M.QURAISH SHIHAB: SELF LOVE DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN DI ERA DIGITAL2026-09-17T15:27:35+07:00Dewi Umussyarofatul Latifahdewilatifah864@gmail.comZabin Triatmajazabinterate@gmail.comSalma AssyifaSalmaasyifa469@gmail.comBusra Febriyarnibundabusra@gmail.comAkhmad Aidil Fitraakhmadaidilfitra@gmail.com<p><strong>Abstrak : </strong>Penelitian ini mengkaji konsep self love dalam perspektif Al-Qur'an sebagaimana disampaikan melalui konten YouTube M. Quraish Shihab dan Najwa Shihab dalam seri Shihab & Shihab berjudul "Menjadi Manusia Seutuhnya dengan Self Love" (2021). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analisis dan strategi library research, serta menganalisis penafsiran Quraish Shihab melalui kerangka tafsir youtubi fenomena kontemporer penyampaian tafsir Al-Qur'an melalui platform video digital. Data primer bersumber dari transkrip video, sedangkan data sekunder mencakup jurnal ilmiah, literatur psikologi tentang self love, serta karya-karya utama M. Quraish Shihab. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan pokok: pertama, Quraish Shihab mendefinisikan self love sebagai ma'rifatun nafs pengenalan dan penerimaan diri yang jujur sebagai amanah ilahi yang berlandaskan QS. Al-Baqarah: 195 dan hadis Nabi tentang keseimbangan hidup; kedua, konten tersebut merepresentasikan karakteristik tafsir youtubi yang dialogis, kontekstual, dan mudah dijangkau, sekaligus menjembatani khazanah tafsir klasik dengan realitas psikologis audiens modern; ketiga, analisis resepsi terhadap 301 komentar penonton menunjukkan dampak nyata pada tataran kognitif, afektif, dan behavioral, yang membuktikan efektivitas format tafsir digital dalam menyampaikan nilai-nilai Al-Qur'an kepada khalayak luas. Penelitian ini berkontribusi pada diskursus Islam digital dan menegaskan peran YouTube sebagai medium dakwah Qur'ani yang signifikan di era kontemporer.</p>2024-08-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 ISLAMIDA Journal of Islamic Studieshttps://ejournal.staidarussalamlampung.ac.id/index.php/islamida/article/view/1137REINTERPRETASI KONSEP TAKDIR DALAM TAFSIR DIGITAL: ANALISIS NARASI PODCAST ESCAPE 2.02026-09-17T14:27:30+07:00Latifa Fahmilatifafahmi775@gmail.comFitrani Nasya Muktinasyamukti465@gmail.comKomarudin Komarudinkomarudinm962@gmail.comBusra Febriyarnibundabusra@gmail.comAkhmad Aidil Fitraakhmadaidilfitra@gmail.com<p>Perkembangan teknologi digital menggeser otoritas keagamaan ke platform seperti YouTube dan podcast. Penelitian ini mengkaji reinterpretasi takdir dalam Podcast Escape 2.0 oleh Felix Siauw dan Raymond Chin, dengan fokus pada kegelisahan Generasi Z terkait ketimpangan dan keadilan Tuhan. Metode kualitatif digunakan melalui analisis transkrip, komentar audiens, serta Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Hasilnya menunjukkan penyederhanaan takdir menjadi dua ranah: yang menguasai manusia dan ruang ikhtiar. Pendekatan ini memudahkan pemahaman, tetapi berisiko mengabaikan dimensi sosial. Studi ini menegaskan peran tafsir digital dalam membentuk pemahaman keagamaan yang lebih praktis.</p>2024-08-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2024 ISLAMIDA Journal of Islamic Studieshttps://ejournal.staidarussalamlampung.ac.id/index.php/islamida/article/view/1140TAFSIR POLITIK : ANALISIS MAKNA SURAH ALI-IMRAN/3:103 DALAM KONTEKS KONFLIK SURIAH OLEH VLADIMIR PUTIN DI INSTAGRAM2026-09-17T14:50:47+07:00Nezha Rossena Dewinezharossena@gmail.comMHD Hauzan Khairul Fatihzeanalfath39@gmail.comAnnisa Layyinatul Arifahayyinaarfh@gmail.comBusra Febriyarnibundabusra@gmail.comAkhmad Aidil Fitraakhmadaidilfitra@gmail.com<p>Penelitian ini mengkaji fenomena ayat Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 103 yang digunakan, ditafsirkan, dan disebarkan sebagai alat politik oleh tokoh non-Muslim di media sosial. Fokus utama penelitian ini adalah bagaimana narasi dari kaidah tafsir surah Ali-Imran ayat 103 tentang pentingnya persatuan dan larangan bercerai berai, dimaknai Presiden Putin melalui platform Instagram dalam konteks konflik Perang Saudara di Suriah. Menggunakan metode kualitatif dengen pendekatan studi kepustakaan (<em>library research</em>), penelitian ini berusaha menganalisis bagaimana kesesuaian makna ayat yang disampaikan Presiden Putin dengan kaidah tafsir yang mu’tabar (diakui), serta mengkaji bagaimana ayat Al-Qur’an dijadikan sebagai legitimasi politik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat titik temu antara makna ayat yang disampaikan Putin dengan tafsir klasik dan kontemporer. Keterkaitan tersebut terletak pada makna perdamaian yang terjadi karena rahmat Allah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di era digitalisasi saat ini, pengunaan ayat Al-Qur’an tidak hanya digunakan dalam konteks keagamaan, tetapi sudah bertransformasi ke dunia politik dan juga jejaring sosial. Penelitian ini menegaskan pentingnya melakukan kajian tafsir mengenai sebuah ayat. Karena pada dasarnya, satu ayat Al-Qur’an bisa mencakup banyak pesan dari Penciptanya, yang tersembunyi dalam keindahan bahasanya.</p>2024-08-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2024 ISLAMIDA Journal of Islamic Studies